xvideo hot housewife fucking younger guy. xxnx endless blowjb at work. sluty girl
Kegiatan bertajuk "Ekomoderasi: Orientasi Mahasiswa Lintas Iman di Kalimantan Barat untuk Keadilan Ekologis dan Moderasi Beragama” di AulaAt-Tanwir Pusat Dakwah Muhammadiyah Kalimantan Barat, Ahad, 21 Desember 2025.
Spread the love

MYKALBAR.COM – Ahad pagi, 21 Desember 2025, suasana di sekitar Aula At-Tanwir Pusat Dakwah Muhammadiyah Kalimantan Barat terasa berbeda. Langit di atas Kota Pontianak tampak cerah. Uniknya, hawa panas yang biasanya menyengat di kota khatulistiwa ini tidak terasa begitu garang. Cuaca yang bersahabat ini seolah mendukung dimulainya sebuah agenda besar bagi anak muda di provinsi ini.

Sejak pukul 07.30 WIB, aula tersebut mulai diramaikan oleh kehadiran mahasiswa dari berbagai latar belakang. Mereka bukan datang dari satu golongan saja, melainkan representasi dari keberagaman Kalimantan Barat. Ada mahasiswa Muslim, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, hingga Konghucu yang berbaur menjadi satu di meja registrasi.

Pemandangan di dalam ruangan mencerminkan identitas etnis yang sangat kaya. Peserta yang hadir membawa latar belakang etnis Dayak, Melayu, Jawa, Madura, Bugis, hingga peranakan. Mereka bukan hanya mahasiswa yang berkuliah di ibu kota provinsi, tetapi juga datang sebagai perwakilan dari daerah-daerah jauh seperti Kapuas Hulu, Sintang, Sekadau, hingga wilayah pesisir seperti Sambas dan Bengkayang.

Kegiatan bertajuk “Ekomoderasi: Orientasi Mahasiswa Lintas Iman di Kalimantan Barat untuk Keadilan Ekologis dan Moderasi Beragama” ini menjadi magnet bagi para aktivis kampus.

Antusiasme mereka terlihat jelas dari diskusi-diskusi ringan yang sudah terbangun sejak awal, meskipun mereka berasal dari kabupaten yang berbeda-beda seperti Kubu Raya, Mempawah, Ketapang, dan Landak.

Acara dibuka dengan suasana yang hikmat dan penuh kekeluargaan. Drs. H. Sumadyo, M.Pd, selaku Ketua Panitia, memberikan sambutan pertama yang meletakkan dasar pemikiran kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa agenda ini diinisiasi untuk mencari titik temu dan ruang perjumpaan yang nyata antar pemeluk agama di tengah ancaman kerusakan alam.

Menurut Sumadyo, merawat komitmen sadar lingkungan adalah tugas bersama yang melampaui batas-batang teologis. Ia meyakini bahwa setiap agama memiliki kesadaran yang relatif sama dalam menjaga alam, atau yang ia sebut sebagai common platform.

Melalui forum ini, para mahasiswa diharapkan mampu mencari solusi atas krisis lingkungan yang terjadi di wilayah mereka masing-masing.

Selanjutnya, Dr. Samsul Hidayat, MA, memberikan sambutan mewakili Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Barat. Samsul memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan ini karena dianggap sangat aktual dan relevan dengan kondisi hari ini. Ia menyoroti istilah “Ekomoderasi” yang merujuk pada dua konsep besar: ekoteologi dan moderasi beragama.

Samsul menjelaskan bahwa dua wacana ini sedang menjadi fokus utama dalam kebijakan Kementerian Agama. Namun, bagi Muhammadiyah, isu ini sudah menjadi bagian dari kerja nyata melalui lembaga Ekobhineka Muhammadiyah Kalimantan Barat. Lembaga ini secara masif mengkampanyekan isu lingkungan dengan motor penggerak dari para aktivis lintas agama.

Puncak sesi pembukaan disampaikan oleh Prof. Dr. H. Martono, M.Pd. Kehadirannya sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kalimantan Barat memberikan bobot strategis pada acara ini. Martono secara resmi membuka kegiatan sembari menegaskan bahwa agenda ini adalah bentuk komitmen nyata Dewan Pendidikan terhadap penguatan kesadaran inklusif.

Dalam pidatonya, Martono mengaitkan isu moderasi beragama dengan isu lingkungan hidup sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam dunia pendidikan. Ia menyampaikan pesan Gubernur Kalimantan Barat yang sangat menekankan pentingnya menjaga inklusivitas dan toleransi sebagai bagian dari indikator pembangunan daerah.

Bagi Martono, upaya meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kalimantan Barat tidak hanya diukur dari angka pendidikan formal, tetapi juga dari kerja-kerja merawat harmoni sosial. Kerja-kerja pembangunan akan lebih mudah dicapai jika masyarakatnya memiliki kesadaran kolektif untuk menjaga kerukunan sekaligus menjaga kelestarian alamnya.

Setelah prosesi pembukaan yang penuh motivasi tersebut, acara dilanjutkan ke sesi materi yang lebih mendalam. Narasumber pertama adalah Eka Pria Saputra, M.Si, yang membawakan pengantar mengenai isu-isu radikalisme dan intoleransi. Ia secara cerdas menghubungkan bagaimana pola pikir ekstrem seringkali berdampak pada ketidakpedulian terhadap krisis lingkungan.

Eka memaparkan bahwa ancaman terhadap keadilan ekologis seringkali berakar dari ketidakmampuan manusia dalam menghargai perbedaan. Mahasiswa diajak untuk melihat bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari praktik moderasi beragama yang paling nyata di lapangan.

Sesi kedua menghadirkan Andry Fitriyanto, M.Ud, seorang fasilitator nasional moderasi beragama. Andry membawa suasana kelas menjadi lebih dinamis dengan materi mengenai “Udar Asumsi” dan Scenario Thinking. Ia mengajak peserta membedah asumsi-asumsi tersembunyi yang selama ini menghambat kerja sama lintas iman dalam isu lingkungan.

Dengan teknik scenario thinking, para mahasiswa dari berbagai kabupaten ini diminta untuk memetakan kemungkinan-kemungkinan masa depan Kalimantan Barat. Mereka berdiskusi tentang apa yang akan terjadi jika diskursus ekomoderasi ini tidak segera diimplementasikan di tengah laju kerusakan hutan dan pencemaran air yang kian masif.

Memasuki sesi ketiga, peserta dibekali dengan alat analisis yang lebih tajam, yaitu Iceberg Analysis dan Process U. Materi ini disampaikan oleh Dr. Nurdianti Awaliyah, S.Si, M.Pd yang bertujuan untuk memberikan kemampuan pemetaan terhadap akar masalah keagamaan yang berhubungan dengan masalah lingkungan. Mahasiswa diajak untuk tidak hanya melihat masalah di permukaan, tetapi hingga ke level struktur dan pola pikir.

Melalui Iceberg Analysis, peserta mulai menyadari bahwa masalah-masalah lingkungan di daerah mereka, seperti di Sanggau atau Melawi, seringkali berkaitan dengan cara pandang manusia yang eksploitatif. Di sinilah nilai-nilai agama yang moderat hadir untuk memberikan perspektif baru dalam pengelolaan sumber daya alam yang adil.

Kegiatan hari pertama ini diakhiri dengan diskusi kelompok yang hangat. Meskipun materi yang diterima cukup berat, para mahasiswa tampak tetap bersemangat. Mereka mulai merancang jejaring komunikasi antar-aktivis lintas iman yang diharapkan akan terus berlanjut setelah acara ini usai.

Rangkaian kegiatan “Ekomoderasi” ini direncanakan akan ditutup secara resmi pada Selasa, 23 Desember 2025. Sebelum penutupan, para peserta masih akan mengikuti sesi refleksi untuk memperdalam pemahaman mereka serta merumuskan komitmen tindak lanjut yang nyata di daerah asal masing-masing.

Dr. Syamsul Kurniawan, M.S.I, Ketua Lembaga Hubungan Umat Beragama dan Peradaban PW Muhammadiyah Kalimantan Barat yang juga Dewan Pendidikan Kalbar, menyinggung langkah yang diambil oleh Dewan Pendidikan Kalbar dan Muhammadiyah melalui orientasi ini, yang menurutnya menjadi oase di tengah krisis lingkungan. Di Aula At-Tanwir, mahasiswa lintas iman Kalimantan Barat telah membuktikan bahwa agama bisa menjadi kekuatan pemersatu untuk menjaga bumi, rumah bersama yang harus dirawat dengan penuh moderasi.*

kimberly cybersex model.porndigger
http://xxvideos.one amateur jerking huge cock.
tamil sex