xvideo hot housewife fucking younger guy. xxnx endless blowjb at work. sluty girl
Spread the love

Penulis: Satyananda Wicaksana (Ketua Umum PW IPM Kalbar)

MYKALBAR.COM – Muktamar ke-24 Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sudah di depan mata. Forum ini bukan sekadar ajang perebutan posisi strategis, melainkan ruang penting untuk adu gagasan dalam menata sekaligus meneguhkan arah baru gerakan IPM.

Sebagai organisasi pelajar yang telah berdiri lebih dari enam dekade, IPM dituntut memiliki kekuatan untuk bertahan (survive) dan tetap relevan melewati setiap fase zaman yang terus bergerak dinamis.

Arah baru IPM tidak boleh berhenti sebagai slogan semata. Ia harus dimaknai sebagai ikhtiar berkelanjutan untuk mendorong organisasi agar terus berbenah dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman. Melalui Muktamar ke-24, IPM diharapkan mampu merumuskan ide-ide segar, mulai dari pembaruan landasan metodologis hingga penguatan paradigma gerakan baru yang lebih kontekstual.

Perubahan sosial yang cepat, perkembangan teknologi yang masif, serta pergeseran karakter generasi menuntut IPM untuk tidak hanya adaptif, tetapi juga visioner. Meneguhkan arah baru IPM berarti memperkuat gerak kolektif yang berlandaskan nilai keislaman, keilmuan, dan kemanusiaan, sekaligus memastikan keberlanjutan gerakan agar tetap relevan lintas generasi.

Dalam konteks tersebut, kepemimpinan berdampak menjadi kunci penting. Kepemimpinan di IPM tidak cukup berhenti pada posisi struktural atau rutinitas program semata, melainkan harus mampu menghadirkan dampak dan perubahan nyata bagi pelajar serta lingkungan sekitarnya. Kepemimpinan berdampak perlu menjadi kacamata baru bagi kader IPM dalam membaca persoalan, merumuskan strategi, dan menentukan arah gerak organisasi.

Tantangan sekaligus peluang terbesar IPM ke depan adalah hadirnya Generasi Alpha, generasi yang lahir dan tumbuh dalam ekosistem digital sejak awal kehidupannya. Mereka akrab dengan teknologi, cepat menyerap informasi, namun juga rentan terhadap krisis identitas dan degradasi nilai.

Oleh karena itu, IPM perlu menyiapkan pendekatan kaderisasi yang kontekstual dengan memadukan nilai-nilai ideologis, metode kreatif, pemanfaatan teknologi digital, serta pendekatan dialogis. Dengan cara ini, IPM tidak kehilangan ruh perjuangannya, sekaligus mampu berkompromi dengan kebutuhan generasi baru.

Selain menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan baru, Muktamar IPM juga harus berfungsi sebagai ajang evaluasi, khususnya dalam merawat kemurnian gerakan IPM. Merujuk pada Buku Ideologi Gerakan IPM, corak gerakan IPM mencakup dakwah Islamiyah, keilmuan, kemandirian dalam arti bebas dari pengaruh dan intervensi kelompok mana pun, serta bersifat modern.

Dakwah Islamiyah menegaskan bahwa IPM, sebagai organisasi otonom di bawah payung besar Persyarikatan Muhammadiyah, dalam setiap napas perjuangannya harus berpegang teguh pada prinsip dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

Menegakkan dan menjunjung tinggi ajaran Islam merupakan kewajiban fundamental setiap kader IPM. Sementara itu, keilmuan telah menjadi identitas gerakan IPM sejak awal berdirinya, yang menuntut budaya berpikir kritis, rasional, dan berorientasi pada kemajuan.

IPM perlu memastikan bahwa gerakan yang dibangun merupakan gerakan yang lahir dari keresahan objektif serta hasil pemikiran kritis kader IPM itu sendiri, bukan sebagai akibat dari pengaruh maupun intervensi kelompok mana pun. IPM tidak boleh terikat atau terkekang oleh kepentingan kelompok tertentu, sebab kondisi tersebut berpotensi melemahkan daya kritis dan kreativitas kader-kadernya dalam merespons realitas sosial.

Kondisi tersebut sejalan dengan analisis Ahmet T. Kuru dalam karyanya Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan, yang menegaskan bahwa ketika sebuah organisasi khususnya organisasi keagamaan, tidak mampu menjaga jarak dan memposisikan diri secara tepat terhadap kekuasaan, organisasi tersebut berisiko kehilangan otonomi serta peran kritisnya.

Relasi yang tidak terkelola dengan baik terhadap kekuasaan berpotensi melahirkan relasi ketergantungan sekaligus membangun bentuk disiplin politik terselubung yang dapat membatasi kebebasan berpikir dan bertindak.

Dalam konteks IPM, keberlanjutan gerakan hanya dapat terjaga apabila terdapat kesinambungan antara gagasan, kaderisasi, dan aksi. Meneguhkan arah baru IPM berarti memastikan proses regenerasi kepemimpinan berjalan secara sehat, budaya intelektual dan tradisi belajar terus dikembangkan, serta keberpihakan terhadap isu-isu pelajar tetap dijaga secara konsisten.

Dengan kepemimpinan yang berdampak, kerja kolektif yang solid, serta kesiapan dalam menyongsong tantangan Generasi Alpha, IPM dapat terus hadir sebagai gerakan pelajar yang progresif, inklusif, dan berkelanjutan. (*)

kimberly cybersex model.porndigger
http://xxvideos.one amateur jerking huge cock.
tamil sex