MYKALBAR.COM – Aula Lantai 3 Universitas Muhammadiyah Pontianak menjadi saksi bisu peneguhan semangat kader muda dalam gelaran Musyawarah Daerah (Musyda) VII Pemuda Muhammadiyah Kota Pontianak, Sabtu, 31 Januari 2026.
Mengusung tema revitalisasi gerakan di era Society 5.0, perhelatan ini tidak hanya menjadi ajang suksesi kepemimpinan, tetapi juga momentum penguatan ideologi dan peran eksternal organisasi.
Dalam salah satu sesi sambutan yang penuh penekanan, tokoh senior mengingatkan para kader untuk menjaga martabat daerah di tingkat nasional.
Ia menegaskan bahwa dinamika musyawarah adalah hal yang wajar, namun hasil akhirnya harus menunjukkan bahwa Pemuda Muhammadiyah Kalbar adalah satu kesatuan yang solid.
“Jangan sampai saat Indonesia menyampaikan laporan nanti, Kalimantan Barat terlihat tidak solid. Singkirkan ego demi perjuangan bersama. Musyawarah ini harus tuntas dengan cara yang baik, dari awal hingga akhir,” tegasnya di hadapan para peserta.
Refleksi mendalam juga disampaikan mengenai hakikat gerakan Muhammadiyah. Para kader diingatkan bahwa keberhasilan Muhammadiyah selama lebih dari satu abad bukan karena kekuatan materi, melainkan karena keikhlasan hati dan keterhubungan dengan Allah SWT, sebagaimana yang diajarkan oleh KH Ahmad Dahlan.
“Muhammadiyah itu berdiri bukan karena pohon atau rantingnya, tapi karena Allah. Jika hati kita ikhlas, maka gerakan ini tidak akan pernah bisa diruntuhkan,” ungkap salah satu pembicara, mengingatkan pentingnya meluruskan niat dalam berorganisasi (ikhlas lillahita’ala).
MUSYDA kali ini juga menjadi momen apresiasi bagi kepemimpinan Sufandry Aditya Utama (Fadri). Meskipun penuh dinamika, ia dinilai berhasil menyiapkan kader-kader pelapis yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan.
Harapan besar diletakkan pada pundak ketua terpilih nantinya agar mampu melakukan gerak cepat konsolidasi, baik internal maupun eksternal.
Pemuda Muhammadiyah didorong untuk lebih aktif mengambil peran dalam membantu persoalan nyata di Kota Pontianak.
Isu-isu lokal seperti akses air bersih di Pontianak Utara hingga masalah lingkungan menjadi tantangan yang harus dijawab dengan aksi nyata, bukan sekadar retorika.
Acara dibuka secara resmi dengan pembacaan doa yang khidmat, memohon agar musyawarah ini melahirkan pemimpin yang amanah dan mampu membawa Pemuda Muhammadiyah Kota Pontianak semakin berkembang dan berdampak luas bagi masyarakat.

