Penulis: Endrik Adiwijaya (Kabid PIP PW IPM Kalbar)
MYKALBAR.COM – Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) merupakan ruang kaderisasi strategis dalam tubuh Muhammadiyah. Sejak dari tahap pelajar, IPM membentuk karakter, kesadaran, ideologis, kepemimpinan, dan keberpihakan kader. Namun, masalah mendasar hingga saat ini adalah tidak adanya organisasi alumni IPM yang terstruktur, terintegrasi, dan berkesinambungan di setiap level pimpinan.
Setelah purnatugas di IPM, alumninya secara alamiah memasuki kehidupan baru. Sayangnya, terkadang transisi ini tidak mampu menjaga kesinambungan relasi alumni dengan IPM. Akibatnya, alumni IPM tersebar sebagai diaspora tanpa wadah yang jelas dan tanpa arah kontribusi yang terorganisir.
Hingga saat ini, IPM belum memiliki organisasi alumni yang terstruktur dan berjalan konsisten dari pusat hingga akar rumput. Hubungan antara kader aktif dan alumni itu biasanya bersifat personal dan tidak terlembagakan. Di beberapa tempat, inisiatif alumni ini bersifat lokal dan tidak terhubung dengan sistem kepemimpinan IPM secara nasional.
Kondisi ini menciptakan kekosongan kaderisasi lanjutan. Sehingga pembinaan ideologi tidak memiliki wadah bagi kader yang telah melewati batas usia. Putusnya kesinambungan antar level pimpinan akar rumput sampai nasional tidak terakumulasi dengan baik.
Alumni IPM sejati sudah ditempa dalam proses kaderisasi, dialektika pemikiran, dan praksis gerakan sejak usia muda. Namun, tanpa organisasi yang jelas modal ini cukup terabaikan. Alumni pun bergerak secara sendiri-sendiri di ruang profesi dan sosialnya masing-masing.
Kontribusi alumni IPM juga tidak terdokumentasi dan tidak terhubung dengan kebutuhan kader aktif. IPM kehilangan peluang besar dalam memperkuat gerakan melalui akumulasi pengalaman dan jejaring alumni.
Organisasi alumni ini tidak cukup dibangun secara simbolik di level pusat. Justru kekuatan harus hadir di akar rumput hingga pusat. Tanpa struktur yang menjangkau level tersebut, partisipasi alumni akan timpang dan elitis.
Organisasi alumni harus dirancang sebagai ekosistem kaderisasi, bukan terpisah dari kader aktif, tetapi dalam satu perjuangan yang sama. Integrasi ini penting agar tidak kehilangan arah gerakan dan regenerasi gagasan.
Alumni juga bisa menjadi mentor, fasilitator jejaring, dan penyediaan ruang belajar. Diaspora alumni memberikan manfaat nyata seperti jejaring sosial dan profesional lintas daerah. Bagi kader aktif, organisasi alumni adalah sumber pembelajaran dan inspirasi.
Absennya organisasi alumni yang terstruktur dan berkesinambungan merupakan persoalan serius yang perlu dijawab secara visioner. Membangun organisasi alumni hingga akar rumput bukan sekedar agenda administrasi, melainkan strategi ideologis untuk menjaga kesinambungan kaderisasi dan memperluas dampak gerakan.
IPM harus dipahami sebagai proses panjang dalam pembentukan manusia berkemajuan. Selama alumni dan kader di rawat dalam satu sistem yang terintegrasi, IPM akan terus hidup melampaui usia, jabatan, dan struktur formal.

