MYKALBAR.COM – Hubungan Islam dan Konfusianisme di Tiongkok ternyata tidak hanya tercermin dalam kehidupan sosial masyarakat, tetapi juga berkembang melalui dialog intelektual yang telah berlangsung selama berabad-abad. Salah satu tokoh penting yang menjadi simbol pertemuan dua tradisi besar tersebut adalah Liu Zhi (刘智), ulama dan pemikir Muslim terkemuka pada masa Dinasti Qing.
Jejak sejarah itu ditemukan Prof. Dr. Samsul Hidayat, M.A., Wakil Ketua PW Muhammadiyah Kalbar sekaligus dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, saat mengikuti Qilu Visiting and Research Residency Program yang diselenggarakan oleh Confucius Research Institute (CRI) di Qufu, Provinsi Shandong, Tiongkok.
Dalam kunjungannya ke pusat dokumentasi sejarah Islam di Qufu, Prof. Samsul menemukan satu ruang khusus yang menjelaskan perjalanan intelektual Liu Zhi ke Kota Qufu. Panel sejarah tersebut menggambarkan bagaimana Liu Zhi datang untuk mengunjungi makam Konfusius dan mendalami pemikiran Konfusianisme sebagai bagian dari upayanya menjelaskan ajaran Islam melalui kerangka budaya Tiongkok.
Dokumentasi tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan Liu Zhi ke Qufu bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah ikhtiar intelektual untuk membangun jembatan pemahaman antara Islam dan Konfusianisme. Dalam berbagai karya tulisnya, Liu Zhi dikenal sebagai salah satu tokoh yang berusaha menunjukkan bahwa nilai-nilai moral Islam memiliki banyak titik temu dengan etika Konfusianisme.
“Temuan ini sangat menarik karena memperlihatkan bahwa dialog Islam dan Konfusianisme telah dilakukan oleh para ulama Tiongkok sejak ratusan tahun lalu. Mereka tidak melihat kedua tradisi ini sebagai sesuatu yang saling bertentangan, melainkan berusaha mencari nilai-nilai universal yang dapat memperkuat kehidupan masyarakat,” ujar Prof. Samsul.

Menurutnya, pendekatan seperti itu menjadi salah satu alasan mengapa Islam dapat berkembang dan diterima di berbagai wilayah Tiongkok tanpa harus melepaskan identitas keislamannya.
Dalam dokumentasi museum dijelaskan bahwa Liu Zhi menempatkan ajaran Islam sebagai bagian dari tradisi moral universal. Ia menggunakan berbagai konsep yang dikenal dalam Konfusianisme untuk menjelaskan prinsip-prinsip tauhid, akhlak, tanggung jawab sosial, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Pendekatan tersebut kemudian dikenal luas sebagai salah satu ciri khas perkembangan Islam di Tiongkok, yakni kemampuan menjelaskan ajaran Islam melalui bahasa dan kerangka berpikir yang dipahami masyarakat setempat.
Selama melakukan penelitian lapangan, Prof. Samsul juga berdialog dengan Imam Masjid Qufu (曲阜清真寺/Qūfù Qīngzhēnsì), H. Irsa (Yuan Caidong). Menurut H. Irsa, hingga saat ini masyarakat Muslim di Qufu tetap memandang penting upaya membangun hubungan harmonis dengan budaya lokal tanpa meninggalkan prinsip-prinsip ajaran Islam.
“Tantangan kami adalah terus mempelajari budaya dan sejarah agar nilai-nilai Islam dapat dijelaskan dengan baik kepada masyarakat,” kata H. Irsa.
Bagi Prof. Samsul, pernyataan tersebut sejalan dengan semangat yang pernah dibangun oleh Liu Zhi beberapa abad lalu. Keduanya menunjukkan bahwa hubungan Islam dan Konfusianisme dapat berkembang melalui pendidikan, dialog, dan saling memahami, bukan melalui pertentangan.
Ia menilai pengalaman di Qufu memberikan pelajaran penting bagi dunia akademik, khususnya dalam bidang studi agama-agama. Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak selalu menjadi penghalang bagi lahirnya kerja sama intelektual.
“Qufu mengajarkan bahwa dialog peradaban bukan hanya konsep teoritis. Ia pernah dipraktikkan oleh para ulama Muslim Tiongkok melalui karya-karya ilmiah, pendidikan, dan penghormatan terhadap tradisi lokal. Pengalaman sejarah seperti ini sangat relevan untuk memperkuat dialog antaragama di era modern,” ujar Prof. Samsul.
Melalui Qilu Visiting and Research Residency Program, Prof. Samsul terus menelusuri berbagai sumber sejarah Islam di Qufu, mulai dari Masjid Qufu (Qūfù Qīngzhēnsì), museum sejarah Islam, manuskrip, hingga wawancara dengan tokoh agama dan akademisi setempat. Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat memperkaya kajian hubungan Islam dan Konfusianisme sekaligus memperkuat kerja sama akademik antara Indonesia dan Tiongkok dalam bidang sejarah, agama, dan peradaban.
