Spread the love

MYKALBAR.COM – Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terbesar dan tertua di Indonesia yang telah berkiprah lebih dari se-abad meninggalkan sejumlah jejak historis bernilai tinggi. Arsip-arsip, catatan, hingga dokumentasi menjadi bukti penting yang mendukung perjalanan eksistensi Muhammadiyah. 

Sayangnya, keberadaan hal tersebut belum dikelola secara baik dan dimanfaatkan untuk melakukan penulisan sejarah. Padahal, historiografi sejarah Muhammadiyah selama ini dirasa perlu ditempatkan berimbang dan lebih dinamis. Dengan mulai menyasar pada perkembangannya di daerah dan amal usahanya. 

Untuk itu Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah mengadakan Akademi Sejarah Muhammadiyah (ASM) yang diselenggarakan dalam 2 gelombang. Untuk gelombang pertama dilaksanakan di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta pada 6-10 Juli 2026. 

Diikuti oleh perwakilan mahasiswa dengan didampingi dosen dari PTM yang memiliki prodi Pendidikan Sejarah, yakni: UM Palembang, UM Metro, Uhamka, UM Purwokerto, UM Mataram. 

Sedangkan gelombang kedua menyasar sejumlah penulis sejarah lokal Muhammadiyah, khususnya yang tergabung dalam MPI wilayah maupun daerah. Diantaranya perwakilan dari MPI Riau, Metro, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Gresik, Nganjuk, Jawa Timur, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan. 

Pada kesempatan ini, hadir pula kaprodi pendidikan sejarah dari UM Metro dan UM Purwokerto, perwakilan Aisyiyah, mahasiswa sejarah Unair, dan guru sejarah di SMA Muhammadiyah sekitar Jawa Timur. Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Dafam, Surabaya, 7-11 Agustus 2026. 

Dilaksanakannya ASM ini dimaksudkan untuk memperkuat tradisi penulisan sejarah lokal Muhammadiyah dengan pemberian materi-materi sejarah, ekskursi sejarah, dan perancangan desain penelitian sejarah. 

ASM juga dimaksudkan untuk mendorong lahirnya tulisan-tulisan sejarah Muhammadiyah yang lebih multiperspektif dengan berbagai pendekatan. Misalnya terkait kiprah perjalanan Aisyiyah, amal usaha, tokoh-tokoh Muhammadiyah, ataupun mengenai relasinya dengan keadaan sosial, budaya, politik di masing-masing tempat. 

Terlebih kepada peserta ASM gelombang 2 yang dikonsepkan dalam bentuk Training of Trainer (ToT), harapannya dapat melaksanakan pelatihan serupa di daerahnya masing-masing untuk mendorong hadirnya tulisan sejarah Muhammadiyah tempatan. 

Widyastuti selaku Wakil Ketua MPI PP mengutarakan bahwa, saat ini belum semua wilayah Muhammadiyah memiliki buku yang menguraikan perjalanan sejarah ditempatnya. Sedang yang sudah ada pun perlu dimutakhirkan dan disesuikan secara metodologis. Untuk itulah kegiatan ini perlu dilakukan agar klaim historis Muhammadiyah memiliki pijakan bukti yang kuat. 

Kegiatan ASM ini diisi oleh sejumlah narasumber dari MPI PP dan akademisi yang sangat berkompeten. Diantaranya Widyastuti, Ghifari Yuristiadi, dan M. Ichsan Budi Prabowo. 

Sejumlah akademisi sejarah juga turut hadir memberikan materi diantaranya Prof. Purnawan Basundoro dan Prof. Sarkawi B. Husein, keduanya dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga dan juga tim dewan pakar MPI PP, Riswinarno dari UIN Sunan Kalijaga dan Iwan Setiawan dari Universtas Aisyiyah Yogyakarta. 

Momentum penting terjadi dari kegiatan ini, yakni berhasil terbentuknya Asosiasi Program Studi Pendidikan Sejarah PTMA se-Indonesia yang diketuai oleh Dr. Johan Setiawan selaku Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah UM Metro. Asosiasi ini diposisikan sebagai unsur penting untuk mendukung pelatihan penulisan sejarah Muhammadiyah. 

MPI PWM Kalimantan Barat sendiri mengutus M. Rikaz Prabowo untuk mengikuti kegiatan ini, yang nantinya diharapkan mampu merancang kegiatan serupa untuk regional Kalimantan. Dengan begitu diharapkan dapat mendorong lahirnya penulisan-penulisan sejarah Muhammadiyah khususnya di sekitar Kalimantan Barat yang diakui tergolong minim.