Penulis: Mohammad Rikaz Prabowo
Pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PWM Kalimantan Barat
Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Tanjungpura
MYKALBAR.COM – Persyarikatan Muhammadiyah di tahun 2026 ini telah memasuki usia yang ke-114. Dengan kiprah dan perjalanan yang telah melintasi berbagai zaman dan generasi itu, meninggalkan banyak jejak-jejak sejarah baik tidak tertulis maupun yang tertulis seperti dokumen, arsip, surat kabar, dan lain sebagainya. Jejak sejarah yang sangat banyak itu tersimpan di seluruh ranting atau jaringan Muhammadiyah, baik di dalam maupun hingga luar negeri. Untuk itu perlu ada usaha memelihara jejak sejarah tersebut agar dapat bermanfaat tidak hanya bagi organisasi, namun juga untuk keperluan penelitian, khususnya penelitian sejarah.
Untuk itu melalui Majelis Pustaka dan Informasi (MPI), sejak tahun 2024 mulai melakukan inventaris dan penghimpunan arsip sejarah persyarikatan. Pekerjaan ini berangkat dari keprihatinan akan keberadaan arsip-arsip sejarah Muhammadiyah yang sebelumnya kurang mendapatkan perhatian khusus. Selain itu, usaha ini juga dimaksudkan untuk memudahkan keperluan penelitian sejarah terkait Muhammadiyah yang sangat bergantung pada keberadaan arsip-arsip tersebut. Lebih jauh lagi, apa yang dilakukan MPI ini adalah bagian dari membangun ekosistem kesejarahan Muhammadiyah yang saling bersinergis dan koordinatif.
Dimulai Dari Kongres Sejarawan Muhammadiyah
Usaha MPI untuk menghimpun para sejarawan baik yang terafiliasi secara struktural, kultural, maupun yang memiliki minat pada Muhammadiyah sebenarnya secara konkret telah dilakukan pada tahun 2021 melalui pembentukan Kongres Sejarawan Muhammadiyah (KSM). Forum ini berada di bawah pembinaan MPI yang langsung digawangi oleh Wakil Ketuanya yakni Widyastuti yang kebetulan juga seorang sejarawan. Dibantu oleh beberapa tokoh lain diantaranya Ghifari Yuristiadi, M. Ichsan Budi Prabowo, Riswinarno, dan Iwan Setiawan.
Pada tahun tersebut, KSM melakukan sejumlah lokakarya sejarah mengenai Muhammadiyah yang ditulis oleh sejarawan berbagai daerah. Kongres yang pertama kali dilaksanakan di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan juga sebagai homebase dari Museum Muhammadiyah itu, juga mendorong agar PTMA mendirikan program studi Ilmu Sejarah. Hal ini dirasa penting, berangkat dari kesadaran historis bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang telah berusia seabad lebih meninggalkan banyak jejak sejarah yang perlu dikelola dengan baik.
Selain itu Muhammadiyah juga perlu menghasilkan tenaga-tenaga atau ilmuwan sejarah yang berguna bagi kemajuan persyarikatan.
Sejarawan Muhammadiyah (dan juga Aisyiyah) kini memiliki jaringan yang cukup luas di seluruh Indonesia. Tidak sedikit diantaranya memang pengajar di berbagai perguruan tinggi dan telah mencapai kepangkatan guru besar (profesor). Hal ini semakin didukung dengan keberadaan PTMA yang memiliki prodi pendidikan sejarah seperti: UM Palembang, UM Metro, UHamka, UM Purwokerto, dan UM Mataram. Hal ini semakin menegaskan secara sumber daya manusia, ekosistem kesejarahan Muhammadiyah telah berada di level yang kuat.
‘Kantor Arsip dan Perpustakaan’ Digital
Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya sekaligus untuk mendukung ekosistem kesejarahan, kini MPI telah menginisiasi sejulah platform kearsipan melalui sejumlah situs. Periset sejarah Muhammadiyah yang membutuhkan data-data sejarah persyarikatan dapat berkunjung ke situs khazanah.muhammadiyah.or.id. Sebagai salah satu perpustakaan digital yang menyimpan banyak koleksi arsip, dokumen, laporan, buku, dan lain sebagainya dari rentang waktu sekitar tahun 1920an. Uniknya, melalui situs itu pula periset dapat melakukan wakaf arsip dengan mengunggah sendiri data-data atau sumber sejarah yang ingin disumbangkan untuk keperluan penulisan sejarah Muhammadiyah.
Selain melalui khazah.muhammadiyah.or.id, para periset juga dapat mengakses beberapa perpustakaan atau penyedia arsip Muhammadiyah lainnya. Seperti yang dikelola oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui sejarahmu.umy.ac.id, dan buku-buku yang bisa didapatkan melalui suaramuhammadiyah.or.id. Selebihnya, periset dapat mengunjungi beberapa situs lain yang juga terdapat arsip-arsip atau data sejarah berkaitan dengan Muhammadiyah seperti yang disediakan oleh Koninklijke Bibliotek melalui delpher.nl, dan Perpusnas RI di khastara.perpusnas.go.id.
Pendidikan Kesejarahan Non Formal Melalui ASM
Masih belum cukup dengan keberadaan jaringan Sejarawan Muhammadiyah dan membangun basis data arsip, MPI juga menghadirkan Akademi Sejarah Muhammadiyah (ASM) pada 6-10 Juli 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta yang diikuti oleh perwakilan mahasiswa pendidikan sejarah dari 5 PTMA dan didampingi dosen pembimbing. Dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan mahasiswa pendidikan sejarah dalam merancang desain penelitian sejarah Muhammadiyah.
ASM kembali berlanjut pada 7-11 Agustus 2026 yang dilaksanakan di Surabaya, diikuti oleh perwakilan yang membidangi bagian sejarah pada MPI Wilayah dan Daerah, dosen pendidikan sejarah PTMA, dan guru sejarah di sekolah Muhammadiyah. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai bentuk pelatihan kepada peserta, agar dapat mentransfer pengetahuan dan mengadakan pelatihan penulisan sejarah Muhammadiyah lokal di tempatnya masing-masing.
Pemateri pada ASM adalah sejarawan-sejarawan akademis yang telah berpengalaman dalam melakukan riset sejarah Muhammadiyah. MPI juga akan mendampingi setiap penulis yang tengah menyelasaikan naskahnya terkait sejarah Muhammadiyah, apapun latar belakangnya. “Kita sangat terbuka kepada siapa saja yang membutuhkan pendampingan penulisan sejarah Muhammadiyah dari tahapan desain penelitian hingga penerbitan, hal ini sudah kami lakukan ke beberapa penulis sejarah Muhammadiyah di daerah” ujar Widyastuti (10/08).
Sementara Ghifari Yuristiadi mengungkapkan tidak menutup kemungkinan kedepannya ASM menjadi program pendidikan kesejarahan yang dilaksanakan oleh PTMA. Demi fleksibilitas, inklusifitas, dan perkembangan teknologi terkini, ASM memungkinkan dilaksanakan secara daring dengan tutor-tutor atau pendamping pembelajaran kesejarahan di daerahnya masing-masing. “Mungkin suatu saat ASM ini dapat diselenggarakan oleh Sibermu (Universitas Muhammadiyah Siber)”, ungkap Ghifari yang dikenal sebagai dosen sejarah di prodi pariwisata UGM.
Dengan terintegrasinya ekosistem kesejarahan Muhammadiyah ini diharapkan akan muncul tulisan-tulisan sejarah Muhammadiyah di berbagai daerah, dengan pendekatan yang lebih multidisiplin, inklusif, dan metodologis. Merebut tafsir historiografi memang menjadi misi ekosistem kesejarahan ini. Sebab dalam beberapa tulisan sejarah, Muhammadiyah kerap kali dipandanga hanya sebagai gerakan dakwah keagamaan saja. Padahal, dinamika di setiap daerah menunjukkan Muhammadiyah juga terlibat dalam lapangan kehidupan yang sangat multidimensi di tengah masyarakat sejak dahulu.
Setiap PWM maupun PDM pada dasarnya memang telah diinstruksikan oleh PP Muhammadiyah untuk melakukan inventarisasi atau penulisan sejarah Muhammadiyah tempatan. Kesadaran sejarah ini perlu untuk dijaga agar konsisten dan menghasilkan kemaslahatan persyarikatan, dan hal ini pun sebenarnya bagian dari Islam berkemajuan ala Muhammadiyah.
Keberadaan ekosistem kesejarahan Muhammadiyah baik itu dari unsur: tenaga sejarawan, pengajaran sejarah, kantor arsip, dan pendidikan (non formal) kesejarahan sebagaimana di atas. Secara tidak disadari sebenarnya telah menjadikan jaringan ini sebagai kelompok periset sejarah terbesar di Indonesia.
