Wakil Sekretaris PWM Kalbar Uray M. Amin menjadi narasumber materi pengembangan cabang, ranting, dan masjid dalam agenda ToT SatuMu yang digelar PWM Kalbar di Ruang Garuda BPMP Kalimantan Barat, Sabtu, 6 Juni 2026 malam.
Spread the love

Penulis: Samsul

MYKALBAR.COM – Kebijakan Pengembangan Cabang dan Ranting serta Pembinaan Masjid Muhammadiyah di Kalimantan Barat menjadi materi penutup dalam kegiatan Training of Trainer (ToT) Satu Data Muhammadiyah (SatuMu) yang digelar Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Barat di Ruang Garuda BPMP Kalimantan Barat, Sabtu, 6 Juni 2026 malam.

Kegiatan ini diikuti sebanyak 49 peserta dari 14 Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) kabupaten/kota se-Kalimantan Barat. Materi penutup ini disampaikan narasumber Wakil Sekretaris PWM Kalbar sekaligus Pembina Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCR-PM) PWM Kalbar, Uray M. Amin dan Ketua LPCR-PM PWM Kalbar M. Viki Riandi.

Dalam pemaparannya, Uray menegaskan bahwa program SatuMu tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pendataan organisasi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam strategi penguatan cabang dan ranting Muhammadiyah di Kalimantan Barat.

Menurutnya, cabang dan ranting yang kuat membutuhkan amal usaha sebagai penopang gerakan. Namun tidak semua cabang dan ranting memiliki kemampuan untuk mendirikan sekolah, perguruan tinggi, atau amal usaha lainnya.

Karena itu, masjid menjadi pilihan yang paling realistis sekaligus strategis untuk dikembangkan. “Masjid merupakan amal usaha yang paling minimal sekaligus paling maksimal untuk dikembangkan karena dapat menjadi pusat pembinaan umat dan penguatan organisasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan data yang akurat melalui SatuMu akan memudahkan Muhammadiyah dalam memetakan potensi organisasi, menyusun program, serta mengembangkan pelayanan kepada masyarakat secara lebih efektif dan tepat sasaran.

Lebih lanjut, Uray menekankan bahwa masjid Muhammadiyah memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat ibadah. Masjid juga harus menjadi pusat dakwah, pemberdayaan sosial, dan penguatan ekonomi umat.

“Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan kehidupan berjamaah,” katanya.

Sebagai contoh, ia menyebutkan program pemberdayaan yang dijalankan oleh Kantor Layanan Lazismu Masjid At-Tanwir Pusat Dakwah PWM Kalbar. Saat ini terdapat 31 kepala keluarga yang menjadi penerima manfaat, terdiri atas tiga kepala keluarga penerima santunan dan 28 kepala keluarga penerima subsidi.

Uray berharap apa yang sudah dilakukan Masjid At-Tanwir bisa diikuti oleh masjid-masjid Muhammadiyah lainnya di Kalbar.

Sebab menurutnya, keberhasilan dakwah Muhammadiyah tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan keagamaan yang dilaksanakan, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan solusi bagi persoalan sosial dan ekonomi masyarakat.

Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu mengimplementasikan SatuMu secara optimal di daerah masing-masing sekaligus memperkuat pengembangan cabang, ranting, dan pembinaan masjid sebagai basis utama gerakan Muhammadiyah di Kalimantan Barat.

Sementara Ketua LPCR-PM, M. Viki Riandi mengingatkan bahwa masjid adalah ruh gerakan Islam, sekaligus sebagai ruh gerakan Muhammadiyah.

Maka ia pun mengajak kepada pengurus PDM yang hadir menghidupkan cabang, ranting dan masjid Muhammadiyah sebagai bentuk mensyukuri nikmat ber-Islam dan ber-Muhammadiyah.