Pembukaan Training of Trainer (ToT) Satu Data Muhammadiyah (SatuMu) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Barat di Ruang Garuda BPMP Kalimantan Barat, Jumat, 5 Juni 2026.
Spread the love

MYKALBAR.COM – Sebanyak 49 peserta mengikuti Training of Trainer (ToT) Satu Data Muhammadiyah (SatuMu) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Barat di Ruang Garuda BPMP Kalimantan Barat, Jumat-Sabtu, 5-6 Juni 2026.

Mereka adalah ketua, sekretaris, agen, dan verifikator dari 14 Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) kabupaten/kota se-Kalimantan Barat. Kegiatan dibuka Jumat malam oleh Ketua PWM Kalbar, Pabali Musa dan akan ditutup pada Sabtu malam.

Saat membuka kegiatan, Pabali Musa mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan bersama oleh Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) dan Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCR-PM) PWM Kalbar ini.

Pabali mengatakan, perkembangan dunia digital semakin luar biasa. Hal ini harus pula disikapi Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah.

“Mudah-mudahan kegiatan ini efektif dapat menghasilkan sesuatu yang terbaik. Terima kasih atas kehadirannya, dan sukses untuk acaranya,” katanya.

Pelatihan ini menghadirkan tiga narasumber dari Tim SatuMu Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yaitu Deta Dwi Prayitno, Annisa Khoirul Amanati, dan Assyifa Maulida.

Materi yang disampaikan antara lain pengenalan layanan digital persyarikatan, Direktori Organisasi Muhammadiyah (DOM), pembuatan Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTAM) Elektronik, dan IuranMu.

Ketua MPI PWM Kalbar sekaligus ketua panitia, Dedy Ari Asfar, menyampaikan bahwa arus deras digitalisasi tidak akan terelakkan. “Kita hadir bukan sekadar sebagai peserta pelatihan. Kita hadir sebagai saksi sebuah peralihan zaman,” katanya.

Dedy mengatakan, Muhammadiyah sejak dahulu dikenal sebagai gerakan tajdid. Implementasi Satu Data Muhammadiyah adalah juga tajdid dalam bentuk digitalisasi.

“SatuMu bukan sekadar aplikasi. Ia adalah “ingatan kolektif” persyarikatan. Ia adalah cara baru kita memahami organisasi, mengelola data, dan membaca realitas,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa kerja-kerja dakwah di era digital ini tidak cukup hanya dengan semangat. “Zaman mengajarkan kita bahwa semangat saja tidak cukup, harus ditopang oleh sistem, oleh data, oleh keteraturan,” katanya.

Dalam konteks inilah menurut Dedy, SatuMu menjadi penting. “Ia bukan menggantikan nilai, tetapi memperkuatnya. Ia bukan menghilangkan ruh, tetapi menyalurkannya dalam bentuk yang lebih terukur, lebih akuntabel, dan lebih berkelanjutan,” ujarnya.